Efek Domino Kurs: Kenapa Bank - Bank Besar Sangat Terpengaruh Saat Rupiah Melemah
Blog post description.
Taufik Akbar, MAPPI (Cert)
6/7/20262 min read


Ada pola yang cukup membingungkan di pasar modal kita. Emiten perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI selama ini dikenal sebagai tulang punggung ekonomi domestik. Fundamentalnya solid, profitabilitasnya bersaing di level regional, dan manajemennya tergolong profesional. Tapi setiap kali Rupiah tergelincir ke level yang rendah terhadap Dolar AS, saham-saham inilah yang justru paling kena dampak untuk dijual oleh investor asing. Kenapa justru yang fundamentalnya bagus yang pertama kali dilepas?
Hal ini bukan hanya sentimen pasar saja. Investor melihat emerging markets bukan dilihat dari sisi parsial, tapi sebagai satu kesatuan yang harus diperhatikan secara kolektif. Ketika mata uang lokal melemah terus menerus, nilai investasi dalam denominasi Dolar otomatis ikut menurun, bahkan sebelum harga sahamnya bergerak turun. Untuk meminimalisir kerugian dan resiko ke depannya, maka langkah yang dilakukan adalah dengan mengurangi porsi portofolio di market tersebut. Dan di sinilah justru masalahnya. Bank-bank besar punya likuiditas yang sangat besar, sehingga aset-aset tersebut adalah pintu yang paling mudah dimasuki sekaligus pintu yang cukup lebar untuk dilalui saat modal asing harus keluar dalam skala miliaran Dolar tanpa langsung merusak struktur pasar.
Dampak pelemahan kurs tidak berhenti hanya di portofolio. Efeknya juga merembet dalam hal cara bank menghasilkan pendapatan. Bank sentral yang ingin berusaha menahan turunnya mata uang dan mencegah keluarnya modal biasanya akan menaikkan suku bunga acuan. Dan ini sudah terjadi. Kebijakan ini memang untuk menahan inflasi dan menstabilkan kembali nilai tukar. Tapi bagi perbankan, kenaikan suku bunga ini bisa mengubah struktur biaya.
Salah satu keunggulan utama bank-bank besar adalah kemampuannya mengumpulkan dana lewat tabungan dan giro, yang menjaga biaya dana tetap rendah. Begitu suku bunga acuan naik, deposan besar cenderung berharap imbal hasil yang lebih tinggi. Bank cenderung akan menaikkan bunga deposito agar dananya tidak keluar ke obligasi atau instrumen lain yang lebih menguntungkan. Biaya simpanan naik tapi kemampuan bank untuk mengalihkan kenaikan ini ke bagian kredit sangat terbatas karena bunga pinjaman yang tinggi juga bisa memberatkan bisnis nasabah itu sendiri. Hasilnya, Net Interest Margin (NIM) mulai tertekan. Selisih yang selama ini jadi salah salah satu sumber pendapatan bank perlahan-lahan mengecil.
Masalah berikutnya muncul dari sisi kredit. Suku bunga tinggi ditambah nilai tukar yang lemah menyulitkan nasabah, baik korporasi maupun ritel. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor harus menanggung biaya produksi yang lebih besar. Konsumen mulai berhemat karena daya beli tergerus inflasi. Korporasi yang punya utang valuta asing tanpa hedging yang cukup harus menghadapi beban pembayaran yang jauh lebih berat. Pendapatan yang turun dan beban yang naik ini menurunkan kemampuan nasabah untuk membayar utang. NPL yang tadinya tampak terkendali bisa memburuk. Bank pun terpaksa mengalokasikan lebih banyak pendapatan operasional untuk biaya pencadangan, dana yang seharusnya bisa diputar untuk kredit produktif justru harus dicadangkan sebagai antisipasi risiko kenaikan NPL.
Hal seperti ini sudah diperhitungkan oleh para manajer investasi global sebelum mereka menjual aset. Mereka tidak melepas saham bank karena manajemennya buruk, tapi karena kondisi makro akan membuat bank untuk fokus bertahan, bukan bertumbuh. Dimana kebijakan pemerintah juga sangat berpengaruh. Kebijakan yang tidak jelas dan cenderung berubah - ubah akan meningkatkan resiko. Mengamankan modal terlebih dahulu, menunggu volatilitas mereda, baru kemudian masuk kembali ketika polanya sudah mulai terlihat.