Masalah Kebocoran OpEx dan Spoilage Akibat Mati Listrik di Dunia Industri

6/20/20263 min read

white concrete building
white concrete building

Jika listrik PLN mendadak padam, produksi yang sebelumnya produktif menjadi terhenti.

Gangguan produksi akibat mati listrik bukanlah penundaan jadwal biasa. Bukan pula gangguan operasional rutin yang bisa ditutup menggunakan lembur akhir pekan.

Tapi kalau kita bedah secara mikroekonomi, satu jam downtime itu sebenarnya banyak membuang profitabilitas dari tiga sisi sekaligus. Namun kerugian ini bisa saja lolos dari laporan P&L bulanan yang rapi. Angka-angkanya kelihatan baik-baik saja di laporan.

Bukan Sekadar Telat: WIP yang Berubah Jadi Barang Rongsok
Contoh dari hal yang jelas terlihat jika mesin mati di tengah proses produksi.

Fokusnya di spoilage, kerusakan bahan setengah jadi. Misalnya jika kita mengoperasikan mesin extrusion plastik, atau furnace peleburan logam. Listrik padam tiba-tiba, bahan baku yang sedang diproses di dalam tabung (Work in Process, atau WIP) langsung rusak. Cacat, tidak bisa diteruskan, tidak bisa didaur ulang dengan mudah. Ujung-ujungnya jadi barang rusak.

Ibaratnya kita memanggang kue tart untuk pesanan VIP, lalu oven mati total di tengah proses. Tentu saja kita tidak bisa menyalakannya lagi dua jam kemudian dan berharap kuenya tetap mengembang sempurna. Adonannya itu sudah rusak dan harus memulai dari awal, tepung baru, telur baru.

Direct material cost menguap seketika. Dan masalahnya tidak berhenti di bahan yang terbuang. Mesin extrusion yang mati mendadak menyisakan lelehan plastik di salurannya. Teknisi harus bongkar, membersihkan, mengatur ulang dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam atau bahkan kadang berhari-hari sebelum produksi bisa jalan lagi. Ini rework dan setup cost yang sudah jelas membuang uang tanpa menghasilkan satu unit pun produk siap jual.

Argo Tetap Jalan: Gaji Dibayar Tanpa Output

Saat mesin berhenti, manajemen praktis tidak punya banyak opsi, dan tetap harus membayar mereka untuk duduk diam di pabrik.

Buruh yang menunggu genset menyala atau sistem di-restart tetap dibayar penuh. Sudah jelas ada inefisiensi. Sunk cost yang tidak akan pernah bisa ditarik lagi dari komponen direct labor. Hal ini tidak serta merta bisa diganti dengan meminta mereka lembur untuk mengejar target pengiriman.

Ini logika finansial yang kurang tepat. Biaya lembur (overtime premium) yang dibayar di akhir pekan untuk mengejar ketertinggalan itu sebenarnya menggerus ke margin operasi.

Kita sudah bayar jam kerja reguler yang zero output saat mati lampu. Sekarang kita bayar premium rate yang bisa 1,5 sampai 2 kali lipat harganya hanya untuk memproduksi barang yang sama persis. Harga jual ke buyer B2B tentu tidak mungkin bisa kita naikkan secara mendadak dengan alasan pabrik mengalami mati listrik. Jadi siapa yang harus menanggung selisihnya? Diantarnya adalah lewat laba yang ditahan (retained earnings) perusahaan.

Alternatif Genset Cadangan

Tapi bagaimana jika kita menggunakan Genset? Meskipun hal ini menjadi alternatif tetap perlu menghitung delta-nya, selisih biayanya.

Listrik dari genset berbahan bakar solar industri (HSD - High Speed Diesel) itu mahal. Apalagi sekarang harganya menjadi lebih tinggal. Tergantung efisiensi mesin, harga per kWh-nya mungkin bisa dua sampai tiga kali lipat tarif reguler PLN kelas industri.

Analogi sederhananya, kita biasa berangkat kantor naik mobil LCGC yang irit. Tiba-tiba di tol, mobil mogok total. Ada meeting penting yang tidak bisa ditinggal, jadi terpaksa sewa taksi online dan harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki bahkan menderek mobil. Ya, bisa juga sampai secara tepat waktu. Klien tidak kecewa. Tapi ada biaya transportasi hari itu yang menganggu anggaran belanja sebulan penuh.

Menyalakan genset 2.000 kVA selama tiga jam memang menyelamatkan kuota pengiriman hari itu. Tapi tagihan solar industri itu bisa langsung mengikis pos OpEx (Operating Expenses).

Dampak ke Valuasi: Kenapa Investor Peduli pada Kestabilan Listrik PLN

Setiap aktivitas operasional di pabrik tetap perlu diperhitungkan ke laporan keuangan. Lonjakan OpEx yang persisten akibat suplai listrik yang buruk bisa langsung menekan margin EBITDA ke bawah.

Sebagai konsultan penilaian aset, saat saya melihat fasilitas manufaktur beroperasi di zona dengan keandalan listrik rendah, beban risiko ini perlu dipertimbangkan pada model proyeksi. Diantaranya, dengan menaikkan company-specific risk premium (CSRP) saat menghitung tingkat diskonto (WACC).

Apa implikasi matematisnya? Angka pembagi (discount factor) untuk menarik arus kas masa depan ke nilai kini menjadi jauh lebih besar.

Ujungnya, valuasi pabrik itu ikut terpengaruh. Investor yang jeli tentu tidak akan mau bayar harga premium untuk arus kas yang rentan terbuang cuma karena listrik mati. Sesepele itu alasannya, tapi efeknya tidak sepele sama sekali.

Harga dari Masalah Listrik Industri

Punya genset darurat dan SOP penanganan downtime itu memang keharusan operasional. Tetapi itu bukan solusi finansial untuk jangka panjangnya. Pihak manajemen perlu memperhitungkan ketidaksabilan masalah energi ini ke dalam formulasi pricing produk. Meskipun para konsumen tidak suka dengan kenaikan harga barang, tapi inilah realitasnya jika masalah listrik industri tidak segera dibenahi oleh pihak penyedia yang dalam hal ini adalah pemerintah / PLN. Ketidakpastian akan meningkatkan resiko, yang artinya meningkatkan biaya. Hal ini juga akan membuat para investor berfikir ulang untuk melakukan investasi di Indonesia